Rabu, 27 November 2019

Pembagian Harta Warisan untuk Anak dari Istri Kedua

Pembagian Harta Warisan untuk Anak dari Istri Kedua

Pertanyaan

Seorang pria (suami) menikah dengan istri pertamanya dan mempunyai 4 orang anak. Istri pertama meninggal lalu harta tidak bergerak diubah nama oleh notaris dengan hak waris 1/5 masing-masing, rata kepada si pria dan keempat anaknya. Lalu si pria menikah untuk kedua kalinya dan mendapatkan 2 anak dengan istri kedua ini. Si pria tersebut meninggal dan selang berapa lama istri kedua juga meninggal. Pertanyaannya, apakah anak pada pernikahan kedua tersebut berhak atas hak waris harta tidak bergerak tersebut? Mengingat hak waris istri pertama dibuat tertulis dibagi 1/5 masing-masing anak istri pertama ditambah suami. Mohon pencerahannya. Terima kasih. Catatan: mereka bukan keluarga muslim.

Intisari Jawaban

Berdasarkan Pasal 832 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang berhak menjadi ahli waris adalah keluarga sedarah, baik yang sah menurut undang-undang maupun yang di luar perkawinan, dan suami atau istri yang hidup terlama. Pada peristiwa yang Anda paparkan, dengan meninggalnya suami, maka anak, baik dari perkawinan pertama maupun kedua, serta istri kedua berhak atas harta peninggalan suami. Mereka termasuk ke dalam ahli waris golongan pertama sehingga keberadaan mereka menutup ahli waris golongan lain.
 
Bagaimana perhitungan pembagian warisan untuk masing-masing pihak dengan adanya rangkaian peristiwa meninggalnya istri pertama, suami, dan istri kedua?
 
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda lihat pada ulasan di bawah ini.

 

Lihat Ulasan Lengkap

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua