Rumor masuknya perusahaan telekomunikasi asal Rusia, Altimo kembali bergulir. Isu ini bertepatan dengan rencana kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia pada 6 September 2007 nanti. Kunjungan pertama Presiden Rusia dalam 30 tahun terakhir itu dalam rangka menjalin kerjasama strategis Indonesia-Rusia di segala bidang.
Namun, yang menarik adalah informasi yang menyebutkan kelompok usaha Rusia, Alfa Group, perusahaan induk yang salah satunya membawahi Altimo, akan ikut dalam rombongan tersebut. Tujuannya klasik, yaitu memuluskan rencana pembelian 41% saham Temasek Holdings di PT Indosat Tbk.
Sebelumnya, perwakilan Alfa Group, juga pernah mengutarakan niatnya agar pembelian saham Indosat bisa terlaksana bersamaan dengan kunjungan Putin ke Indonesia. Sejalan dengan kunjungan itu, pengusaha Indonesia dan Rusia juga akan bertemu, termasuk Direktur Eksekutif Altimo Alexey Reznikovich dan Presiden Alfa Bank Pyotr Aven. Wakil Presiden Altimo Kirill Babaev mengkonfirmasi bahwa Altimo akan ambil bagian dalam Forum Bisnis Indonesia-Rusia.
Seperti dilaporkan Media Online Rusia Kommersant, (22/8), sebuah sumber yang mengatur pertemuan itu mengungkapkan Alfa akan menggunakan kesempatan kunjungan Putin agar pemerintah Indonesia setuju bila Alfa membeli 41 persen di Indosat dari anak perusahaan Temasek, Singapore Technologies Telemedia (STT).
Kontan saja, informasi ini ditanggapi serius oleh Indonesia Development Monitoring (IDM). Mereka menolak kehadiran Altimo di Indonesia karena dianggap melakukan praktek bisnis yang tidak patut. Pasalnya, juru bicara IDM Muhammad Ramdhoni masih menduga kuat Altimo terlibat dalam pemeriksaan Temasek di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Jika informasi yang itu benar, maka hal itu seolah membuka tabir yang selama ini tertutup, ujarnya saat jumpa pers (28/8).
Ia mengatakan sebuah dokumen dari Institute for Analysis of Information and Technologies Business (IAITB) yang ditandatangani oleh Musarman memaparkan sebuah konspirasi yang disponsori perusahaan asal Rusia, Altimo Alfa Group, dalam skenario buy back Indosat.
Direktur Regional Pengembangan Bisnis Altimo Asia Tenggara, Soeharto, mengatakan Altimo tidak pernah memfokuskan diri untuk membeli Indosat. Namun Ramdhoni menilai kedatangan Altimo dengan membonceng Presiden Putin di saat KPPU akan membuat keputusan kasus Temasek, adalah indikasi kuat bahwa Altimo memang hendak membeli Indosat. KPPU sendiri telah berulang kali membantah keterlibatannya dalam isu buy back Indosat.
Ramdhoni juga menyatakan pihaknya amat prihatin terhadap aksi yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Persaudaraan Indonesia Rusia (FKPIR). Pasalnya, FKPIR sempat melakukan aksi di depan kantor KPPU agar komisi itu memberikan hak prioritas pembelian saham Indosat kepada Altimo.
Selain itu, katanya, FKPIR juga meminta pemerintah supaya jangan mengecewakan Altimo sebagai pembeli Indosat. Ada kesan yang kuat FKPIR ingin menjadikan KPPU sebagai palu pemukul untuk mendiskreditkan Temasek dan memuluskan Altimo sebagai pembeli Indosat, tuturnya.
Sejumlah pengamat yang dihubungin hukumonline juga memperkirakan, kunjungan itu akan berbuah hasil karena Alfa dikenal punya kemampuan dalam lobi tingkat tinggi.
Sementara itu, Soeharto yang juga menjabat sebagai Head of Representative Altimo, berujar terlalu dini untuk memutuskan Altimo akan membeli Indosat. Kalaupun ada minat dari Altimo, katanya, harus diteliti dulu harganya.
Soeharto menegaskan, Temasek memang memiliki hak untuk menjual dan membeli kepada siapapun, termasuk ke Altimo. Kalau bagus, mereka willing to sell, kita akan melihat lagi, ujarnya.
Seperti diketahui, selama ini pimpinan Altimo terus berbicara soal kemungkinan ekspansi usaha ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada 2006, Altimo membuat kantor cabang di Jakarta dan Hanoi, Vietnam. Pada Maret 2007 Altimo mengumpulkan US$1,5 miliar dengan Deutsche Bank untuk membeli aset telekomunikasi di Asia. Disamping itu, holding Altimo juga sudah mengakusisi 90% saham Sotelco di Kamboja senilai US$ 10-20 juta.
















