BisnisBisnis
Perhatikan 3 Hal Ini Sebelum Menjual Aset PT
Bacaan 3 Menit

PERTANYAAN
Saya bermaksud menjual salah satu aset PT saya, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dari sisi hukum?
Pro

Pusat Data
Koleksi peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan yang sistematis serta terintegrasi
Solusi
Wawasan Hukum
Klinik
Tanya jawab gratis tentang berbagai isu hukum
Berita
Informasi dan berita terkini seputar perkembangan hukum di Indonesia
Jurnal
Koleksi artikel dan jurnal hukum yang kredibel untuk referensi penelitian Anda
Event
Informasi mengenai seminar, diskusi, dan pelatihan tentang berbagai isu hukum terkini
Klinik
Berita
Login
Pro
Layanan premium berupa analisis hukum dwibahasa, pusat data peraturan dan putusan pengadilan, serta artikel premium.
Solusi
Solusi kebutuhan dan permasalahan hukum Anda melalui pemanfaatan teknologi.
Wawasan Hukum
Layanan edukasi dan informasi hukum tepercaya sesuai dengan perkembangan hukum di Indonesia.
Catalog Product
Ada Pertanyaan? Hubungi Kami


Bacaan 3 Menit

Saya bermaksud menjual salah satu aset PT saya, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dari sisi hukum?
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Ketentuan Penjualan Aset Perseroan yang dibuat oleh Sovia Hasanah, S.H., dan pertama kali dipublikasikan pada Selasa, 11 Juni 2019.
Sebelum menjawab pertanyaan Anda, perlu dipahami bahwa aset merupakan kekayaan Perseroan Terbatas (“PT”), yakni semua barang baik bergerak maupun tidak bergerak, baik berwujud maupun tidak berwujud, milik PT.[1]
Dalam pertanyaan, Anda berencana untuk melakukan penjualan aset milik PT, maka perlu diperhatikan 3 hal sebagai berikut.
Pertama, Anda harus memperhatikan pembatasan dalam anggaran dasar, apakah diperlukan persetujuan dari dewan komisaris dan/atau pemegang saham PT sebelum melakukan pengalihan aset PT.
Selanjutnya perlu diperhatikan pula ada tidaknya minimal persentase yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan memenuhi kriteria yang harus mendapatkan persetujuan dari dewan komisaris dan/atau pemegang saham PT.
Dalam hal membutuhkan persetujuan dari dewan komisaris dan/atau pemegang saham PT, patut diperhatikan bentuk persetujuan yang dikeluarkan harus melalui suatu rapat dewan komisaris dan/atau Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”) atau dapat dilakukan secara sirkuler.
Selain ketentuan anggaran dasar, pembatasan juga bisa diatur dalam peraturan perundang-undangan, seperti Pasal 102 ayat (1) UU PT yang mengatur direksi wajib meminta persetujuan RUPS untuk mengalihkan kekayaan PT atau menjadikan jaminan utang kekayaan PT yang merupakan lebih dari 50% jumlah kekayaan bersih PT dalam 1 transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak.
Sehingga dalam hal pengalihan aset PT melebihi 50% dari jumlah kekayaan bersih PT, maka harus mendapatkan persetujuan dari RUPS.
Kami pun menyarankan agar Anda memeriksa kembali peraturan lainnya sehubungan dengan kegiatan usaha yang Anda jalani, misalnya apakah penjualan aset memerlukan persetujuan dari instansi atau dinas tertentu.
Selanjutnya, apabila ada perjanjian dengan pihak ketiga, misalnya perjanjian kredit antara PT (debitur) dengan bank (kreditur), perlu ditinjau apakah dalam perjanjian tersebut mengatur ketentuan debitur harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari kreditur sebelum melakukan penjualan atau pengalihan aset, terlebih dalam hal aset itu dijaminkan.
Jika ada klausul demikian, PT harus berkomunikasi dengan bank untuk meminta persetujuan penjualan aset. Sehingga, kami menyarankan agar Anda memeriksa kembali seluruh perjanjian yang dijalankan oleh PT khususnya terkait ada tidaknya pembatasan penjualan aset.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
[1] Penjelasan Pasal 102 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas