Mengenal Prinsip Ultra Petita
Terbaru

Mengenal Prinsip Ultra Petita

Penggunaan prinsip ultra petita dalam putusan dibenarkan sepanjang hal tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan masyarakat luas.

Willa Wahyuni
Bacaan 2 Menit
Hukumonline
Hukumonline

Prinsip ultra petita dikeluarkan hakim atas perkara yang tidak dituntut atau meluluskan lebih dari pada yang diminta. Dalam konteks hukum acara pidana, putusan ultra petita dikeluarkan karena dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) kurang sempurna dan sebagai wujud pengembangan hukum progresif, di mana hakim bukan hanya sebagai corong undang-undang tetapi merupakan corong keadilan yang mampu memberikan putusan yang berkualitas dengan menemukan sumber hukum yang tepat.

Putusan hakim tidak harus berpedoman pada undang-undang sebagai prosedur mutlak. Jika putusan hakim hanya berlandaskan prosedur maka roh dan cita-cita dari hukum pidana yang tertuang dalam asas hukum tidak bisa diwujudkan.

Putusan hakim merupakan puncak dari pemeriksaan perkara pidana dalam keseluruhan proses peradilan pidana. Dalam putusan hakim diharapkan akan ditemukan pencerminan nilai-nilai keadilan dan kebenaran, hak asasi manusia, penguasaan hukum dan fakta secara mapan, mumpuni dan faktual.

Baca Juga:

Putusan hakim juga mencerminkan visualisasi etika, mentalitas, moralitas hati nurani, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmu hukum, masyarakat serta demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana akan sangat menentukan apakah putusan seorang hakim dianggap adil atau menentukan apakah keputusannya dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.

Ultra petita adalah penjatuhan putusan oleh Majelis Hakim atas suatu perkara yang melebihi tuntutan atau dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Putusan ultra petita ini tercantum dalam Pasal 178 HIR dan RBg.

Pasal 178 HIR berbunyi, hakim tidak diizinkan menjatuhkan keputusan atas perkara yang tidak digugat, atau memberikan lebih dari pada yang digugat. Kemudian, pasal 189 ayat (3) RBg berbunyi, hakim dilarang memberi keputusan tentang hal-hal yang tidak dimohon atau memberikan lebih dari yang dimohon.

Hakim memiliki kebebasan dalam menentukan pemidanaan sesuai dengan pertimbangan hukum dan nuraninya, bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari apa yang dituntut. Kekuasaan kehakiman merupakan badan yang menentukan isi dan kekuatan kaidah hukum positif dalam konkretisasi oleh hakim melalui putusan-putusannya.

Hakim dalam memutuskan perkara selalu dihadapkan pada tiga asas yaitu asas kepastian hukum, asas keadilan, dan asa kemanfaatan. Tiga asas tersebut harus dilaksanakan secara kompromi dengan menerapkannya secara berimbang.

Berdasarkan praktik peradilan, maka hakim harus memilih salah satu dari ketiga asas tersebut untuk memutus suatu perkara. Tidak mungkin ketiga asas tersebut untuk memutus suatu perkara dan tiga asas tersebut tidak dapat tercakup sekaligus dalam satu putusan.

Ultra petita dapat digunakan oleh hakim dengan batasan tertentu seperti tidak melebihi dari ancaman maksimum yang didakwakan dan harus memuat pertimbangan dan dasar yang kuat. Penggunaan putusan ultra petita dibenarkan sepanjang hal tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan masyarakat luas.

Tags:

Berita Terkait