Lowongan Kerja Sektor Hukum Langka di AS
Berita

Lowongan Kerja Sektor Hukum Langka di AS

Pertumbuhan lowongan kerja yang stagnan dan persaingan yang semakin ketat, mendorong lulusan sekolah hukum di Amerika Serikat berkarier di luar sektor hukum.

M-10
Bacaan 2 Menit
Lowongan Kerja Sektor Hukum Langka di AS
Hukumonline

Semoga ini tidak terjadi di Tanah Air. Para lulusan sekolah hukum di Amerika Serikat tengah diterpa “musibah”. Mereka terancam menganggur atau setidaknya harus mulai berpikir untuk menjalani karier di sektor lain selain sektor hukum. Sebagaimana dilaporkan Wallstreet Journal, lapangan kerja sektor hukum kini menjadi hal yang sangat langka di Negeri Paman Sam.

 

Wallstreet Journal mencatat bidang hukum merupakan bidang yang paling sulit membuka lowongan kerja. Ekstremnya, merujuk pada data dari www.SimplyHired.com yang dirilis 1 September 2011 lalu, hanya kurang dari satu lowongan tersedia bagi tiap 100 sarjana hukum yang mencari pekerjaan. Senasib dengan sektor hukum, empat sektor lain yakni militer, bidang non profit, agen perjalanan, dan real estate juga tengah mengalami kelangkaan lowongan pekerjaan.

 

Kondisi ini mengakibatkan banyak sarjana hukum jebolan universitas-universitas terkemuka di AS –sistem yang berlaku di AS, lulusan sekolah hukum diberi gelar Jurist Doctor (JD)- melompat ke profesi sektor lain. uniknya, fenomena lulusan sekolah hukum bekerja di sektor non hukum bukan hal yang baru. Setahun silam, National Association for Law Placement melansir data bahwa hanya 68,4 persen sarjana hukum di AS yang bekerja di sektor hukum.

 

Sebagai gambaran, misalnya, hanya 17 persen lulusan Boston University School of Law yang bekerja di sektor hukum pada tahun 2009. Selebihnya, memilih berkecimpung di sektor bisnis. Lalu, di University of Texas-Austin’s School of Law, sejumlah alumninya bekerja sebagai kartunis, pelatih anjing, atau pekerja peternakan.

 

“Kondisi perekonomian terkini telah mendorong banyak lulusan hukum untuk kreatif menggunakan pendidikan hukum mereka,” ujar Tim Kubatzky, Direktur Eksekutif bidang Pengembangan University of Texas-Austin’s School of Law sebagaimana dilansir www.usnews.com.

 

Sulit dipungkiri, salah satu pemicu munculnya fenomena ini adalah kondisi perekonomian yang memburuk. Selain itu, belakangan, jumlah peminat profesi hukum juga meningkat dan pasar rekrutmen lulusan baru semakin kompetitif, sehingga banyak lulusan sekolah hukum mulai mempertimbangkan pekerjaan alternatif. Apalagi, penghasilan di profesi non hukum seperti konsultan manajemen atau konsultan investasi cukup menggiurkan. 

 

Menyikapi fenomena ini, sejumlah lembaga pengembangan karier di sekolah-sekolah hukum pun mulai mengeluarkan rekomendasi alternatif pekerjaan untuk lulusan hukum. Sebagian besar merujuk ke pekerjaan di sektor ekonomi.

 

Bekerja di sektor yang berbeda, bukan berarti seorang lulusan sekolah hukum tidak bisa memakai latar belakang pendidikan hukumnya. Vada Dillawn, seorang profesional humas terkemuka di AS yang meraih gelar JD dari South Texas College’s Law School, mengatakan latar belakang pendidikan hukumnya sangat membantu dirinya ketika menangani klien yang terkait dengan tema-tema hak kekayaan intelektual.

 

Apa yang terjadi di AS memang cukup “menyeramkan” bagi para lulusan sekolah hukum di sana. Melihat gejalanya, sarjana hukum di Indonesia juga patut khawatir karena berdasarkan catatan hukumonline, peminat profesi hukum cukup tinggi. Buktinya, fakultas-fakultas hukum, khususnya di kota-kota besar, menjadi salah satu incaran utama para lulusan SMA. Faktor materi memang menjadi alasan dominan di balik tingginya minat orang untuk kuliah hukum. Lulusan hukum, terutama advokat yang masih menjadi profesi idaman, diyakini akan bergelimang harta.

 

Sekitar tiga tahun lalu, Majalah mingguan Tempo bahkan pernah meluncurkan edisi khusus tentang gemerlapnya dunia profesi hukum. Diwartakan Tempo, seorang advokat level junior bisa memperoleh penghasilan hingga AS$2000 atau hampir Rp 20 juta sebulan. Ini di luar bonus dan sejumlah fasilitas lain. Dengan iming-iming uang ribuan Dollar, wajar jika banyak orang mengantri ingin berkecimpung di profesi hukum.

 

Jika minat tinggi ini terus bertahan, maka logikanya lowongan kerja yang tersedia juga suatu saat juga akan menipis. Pertumbuhan lapangan kerja di bidang hukum belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan minat orang terhadap profesi hukum. Jadi, waspadalah wahai para sarjana hukum!

 

Sumber:

www.abajournal.com

http://www.simplyhired.com/

www.usnews.com

Tags: