Disrupsi Teknologi, Masa Depan Lawyer Indonesia Masih Cerah
Utama

Disrupsi Teknologi, Masa Depan Lawyer Indonesia Masih Cerah

Di tengah persaingan bisnis jasa hukum, pesatnya disrupsi teknologi menjadi tantangan terbaru yang harus dihadapi berbagai firma hukum di dunia.

Normand Edwin Elnizar
Bacaan 2 Menit
Kiri ke kanan: Rahmat Sadeli Soebagia Soemadipradja partner pendiri Soemadipradja & Taher Advocates (S&T); Hermann Knott, partner Andersen Tax & Legal Jerman;  Mohamed Idwan Ganie Managing Partner Lubis, Ganie & Surowidjojo (LGS); Patrick Dransfield, In House Community, Hongkong; dan Amrie Hakim, Direktur Pemberitaan dan Konten Hukumonline.com.  Foto: NEE
Kiri ke kanan: Rahmat Sadeli Soebagia Soemadipradja partner pendiri Soemadipradja & Taher Advocates (S&T); Hermann Knott, partner Andersen Tax & Legal Jerman; Mohamed Idwan Ganie Managing Partner Lubis, Ganie & Surowidjojo (LGS); Patrick Dransfield, In House Community, Hongkong; dan Amrie Hakim, Direktur Pemberitaan dan Konten Hukumonline.com. Foto: NEE

Berbagai profesi di dunia kerja diprediksi akan terus berkurang bahkan hilang digantikan oleh mesin-mesin berteknologi mutakhir. Lalu bagaimana dengan lawyer?

 

“Teknologi bukan ancaman, ini alat bantu baru dalam bekerja,” kata Hermann Knott, partner pada Andersen Tax & Legal Law Firm asal Jerman. Berbagai tips juga dibagikan oleh Mohamed Idwan Ganie, managing partner Lubis, Ganie & Surowidjojo (LGS) yang semakin meyakinkan bahwa masa depan para lawyer masih cerah. Hal ini mereka sampaikan dalam International Bar Association (IBA) Conference di Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (3/8) lalu.

 

Konferensi internasional bertajuk “Fundamentals of International Legal Business Practice” yang diselenggarakan IBA bekerja sama dengan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai negara. Salah satu sesi dari berbagai narasumber berkelas internasional membicarakan soal tantangan masa depan yang dihadapi lawyer Indonesia dengan pesatnya legal technology. Dimoderatori oleh Direktur Pemberitaan dan Konten Hukumonline.com, Amrie Hakim, sesi ini mendapat respons sangat aktif dari peserta.

 

(Baca: Artificial Intelligence dalam Industri Hukum, Menyongsong Masa Depan Dunia Hukum Tanpa Hakim dan Lawyer?)

 

Seperti dikatakan Herman Knott, para lawyer tak perlu takut dengan disrupsi teknologi yang telah merambah pada bidang layanan jasa hukum. Hanya saja memang ada hal-hal yang harus segera disadari dan disikapi dengan tepat dari perubahan tren dalam bisnis jasa hukum saat ini di seluruh dunia.

 

Jika mampu “berselancar” di tengah arus perubahan akibat disrupsi teknologi, para lawyer Indonesia dipastikan masih memiliki masa depan cerah. Seperti fintech yang telah menggerogoti bisnis jasa keuangan, legal technology (legaltech) memang dikhawatirkan menjadi musuh baru lawyer di Indonesia. Ditambah lagi saat ini semakin mudah bagi klien untuk menggunakan jasa lawyer berkualitas internasional melalui firma afiliasinya di Indonesia. Apalagi jika kelak proteksi terhadap lawyer asing dicabut oleh Pemerintah. Pasar kian kompetitif!

 

Secara positif Hermann Knott menilai kemajuan teknologi justru menjadi cara meningkatkan kualitas jasa hukum. Ia berpendapat bahwa teknologi berdampak signifikan dalam membentuk ulang pola bisnis jasa hukum. Mulai dari efisiensi kerja yang berarti mengurangi beban biaya bagi klien, hingga efisiensi waktu dalam menangani perkara. Pada akhirnya, disrupsi teknologi memang membuat harapan klien meningkat mulai dari kualitas layanan hingga tarif.

 

“(Teknologi) ini membantu mengurangi biaya yang harus klien keluarkan dalam beberapa layanan, tapi ini tidak berarti lawyer akan hilang, tidak,” ujar lawyer yang tergabung dalam jaringan Andersen Global ini kepada hukumonline.

 

Herman mengakui bahwa teknologi adalah kontributor terbesar untuk lebih banyak layanan berkualitas dengan sedikit biaya, dampak dari teknologi begitu jelas dalam mengurangi biaya jasa hukum. Hanya saja dengan optimis ia membandingkan penggunaan teknologi di profesi medis.

 

“Bandingkan dengan profesi medis, keperluan terhadap perawat memang berkurang tapi tetap ada dokter, jadi jangan takut, mari gunakan teknologi,” katanya.

 

Ia sangat yakin legaltech/Artificial Intelligence hanya akan mengurangi beban kerja, namun tidak mengambil alih profesi lawyer. Dengan beradaptasi menggunakan legaltech secara tepat, para lawyer juga tetap mendapat bagian keuntungan dari disrupsi teknologi di bidang jasa hukum.

 

Human Touch yang Tak Tergantikan

Mohamed Idwan Ganie, Managing Partner Lubis, Ganie & Surowidjojo (LGS) menanggapi kerisauan akan ancaman legaltech dengan sejumlah tips soal human touch dalam bisnis jasa hukum. Ganie mengakui bahwa apa yang membuat lawyer bisa sukses di masa lalu tidak akan lagi bisa dipakai untuk membuat lawyer di masa depan sukses.

 

Namun selalu ada kiat yang pusatnya adalah sentuhan tangan manusia. Kemajuan teknologi tetap tak akan bisa menggantikan kehadiran para lawyer untuk memenuhi kebutuhan klien. Bahkan, Ganie menyebutkan keterikatan klien seringkali secara personal dengan para lawyer, bukan law firm.

 

“Mereka melihat personelnya, maka ini persoalan mengelola kecakapan personel. Mereka (lawyer) pindah kantor, klien akan mengikuti. Seperti ada hubungan personal,” dia menjelaskan.

 

Menurut Ganie, firma hukum harus memulai strateginya dari pengelolaan para lawyer. Bukan hanya soal bekal kemampuan memberi konsultasi hukum, namun juga membuat klien merasa percaya menggunakan jasanya lagi. “Capaian di masa kini adalah mereka puas dan kembali datang,” ujarnya.

 

Bagaimana caranya? Sebagian besar tips yang diberikan Ganie seputar kepribadian dan pola pikir lawyer. Termasuk dalam menyikapi pasar yang kian kompetitif. “Anda buat lebih murah, cepat, tapi dengan lebih banyak keuntungan, apakah bisa? Tentu bisa,” kata Ganie.

 

Di antaranya, ia menekankan bahwa para lawyer harus memiliki entrepreneurial skills dan lawyering skills. Yang pasti semuanya dikemas dalam pola pikir untuk membantu klien menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Sehingga bukan sekadar memberikan penjelasan hukum atas perkara yang dihadapi saja.

 

Beberapa kata kunci kecakapan personal yang disebutkannya adalah fundamental legal skills, problem solving, negotiation, dispute resolution, conflict management, convincing, counseling, risk assessment, juga kemampuan mengelola waktu yang dibutuhkan dalam proses penanganan perkara beserta pemasaran jasa dan personal branding yang tepat. “Anda harus menjadi berbeda,” kata Ganie.

 

Di samping itu para lawyer harus tepat waktu, mudah dihubungi, andal, dan akurat dalam berinteraksi dengan klien. “Asumsikan semuanya bisa memberikan advis yang benar, tapi ada hal-hal yang menjadi nilai lebih,” jelasnya.

 

Hanya dengan cara mengelola para lawyer agar mememenuhi hal-hal tersebut maka firma hukum akan menjadi efektif, efisien, memuaskan, dan menguntungkan. Hal serupa diungkapkan pula oleh Herman Knott.

 

“Anda harus memiliki kecakapan bisnis, syarat terbaru dalam profesi ini, tantangan yang harus dihadapi,” kata Herman dalam pemaparannya. Baginya, keahlian hukum tidak bisa lagi menjadi syarat satu-satunya untuk sukses sebagai lawyer. Ada kombinasi antara keahlian hukum, penggunaan teknologi, pengalaman, serta pemahaman terhadap industri dan keuangan.

 

“Lawyer di masa kini adalah ‘business solution’ team, yang klien butuhkan bukan solusi hukum semata,” kata lawyer yang juga merupakan pendiri Andersen Tax & Legal Law Firm di Jerman ini.

 

Herman menyebutkan bahwa berbagai firma hukum kecil dan menengah enggan menggabungkan dirinya dalam jaringan besar ataupun melakukan merger dengan firma hukum lain agar lebih melengkapi layanan jasanya.

 

Padahal, ada tren bahwa firma hukum saling berlomba menjadi one-stop-shop firms. Mereka berusaha menyediakan layanan lengkap untuk berbagai bidang jasa hukum. Misalnya, Andersen Global yang bahkan menyediakan jasa konsultan pajak serta akuntan publik dalam jaringan firma mereka.

 

Bagi firma hukum yang ingin bertahan untuk tidak menjadi lebih besar, ia menyarankan tetap melakukan investasi dalam menggunakan legaltech. Tentu dengan memetakan kebutuhan dan bukan sekadar ikut-ikutan. “Terutama bagi firma hukum kecil, ini tantangan untuk berinvestasi dengan tepat,” katanya.

 

Jika terasa mahal, Herman mengusulkan strategi penggunaan bersama dengan sesama firma hukum kecil lainnya. “Seperti dalam bidang pertanian, ada mesin-mesin yang mahal dan mereka berbagi memiliki satu mesin yang digunakan bersama,” tambahnya kepada hukumonline sambil memberikan ilustrasi.

 

Yang pasti, Herman mengajak para lawyer untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari. Memanfaatkannya sebagai perangkat penunjang adalah keharusan. Ia mencontohkan lagi bagaimana para broker di bursa saham tetap hadir bersama canggihnya teknologi.

 

Pandangan Peradi Young Lawyer

Hukumonline sempat mewawancarai beberapa lawyer muda yang bergabung dalam komunitas Peradi Young Lawyer. Martchel dari ARP & Co. Law Office menyatakan dirinya tidak khawatir dengan disrupsi teknologi. Justru ia tertarik dengan prospek klien internasional yang semakin banyak tapi terkendala dengan penguasaan bahasa asing yang baru sebatas bahasa Inggris.

 

Arjana, lawyer muda lainya dari Ricardo Simanjuntak & Partners setuju bahwa kehadiran legaltech tidak perlu dikhawatirkan. “Seharusnya itu membuat lebih optimis bisa menyelesaikan perkara lebih cepat dan memuaskan klien,” katanya.

 

Sedangkan Ibrahim (Merdeka, Ibrahim, & Partners) dan Ernest (Ernest Samudera & Partners) yang masing-masing memiliki firma hukum sendiri, optimis tantangan disrupsi teknologi bisa dihadapi dengan baik oleh kalangan lawyer muda.

 

“Kami rasa tidak harus khawatir. Justru harus lebih optimis mempersiapkan langkah selanjutnya,” kata Ernest.

 

Baik Ibrahim dan Ernest menilai lawyer muda Indonesia harus lebih banyak memahami sistem hukum di berbagai negara lainnya dengan visi menyediakan jasa hukum berlevel internasional. “Dengan cara itu bisa go international,” ujar Ernest lagi.

 

Terlepas dari isu disrupsi teknologi dalam bisnis jasa hukum, menarik pula untuk disimak nasehat bijak dari pembicara lainnya, Rahmat Sadeli Soebagia Soemadipradja, partner pendiri firma hukum Soemadipradja & Taher Advocates (S&T) soal gaya hidup para lawyer yang kerap kali “kerja lembur bagai kuda”.

 

“Ingat, semua ini (diskusi soal masa depan lawyer Indonesia-red.) tidak berguna kecuali jika anda bisa tetap sehat setelah 40-50 tahun berpraktik, anda harus belajar hidup seimbang,” katanya.

 

Tags:

Berita Terkait