Logo hukumonline
Personalisasi
Halo,
Anda,

Segera Upgrade paket berlangganan Anda.
Dapatkan fitur lebih lengkap
Ada pertanyaan? Hubungi Kami
Bahasa
id-flag
en-flag
Ketenagakerjaan

Batas dan Regulasi Lembur Perusahaan

Batas dan Regulasi Lembur Perusahaan
Batas dan Regulasi Lembur Perusahaan

PERTANYAAN

Bagaimana ketentuan waktu kerja lembur? Saya seorang staf legal di sebuah perusahaan. Berdasarkan Pasal 78 ayat (1) huruf b UU Nomor 13/2003, waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam dalam 1 hari dan 14 jam dalam 1 minggu. Kemudian bunyi Pasal 188 ayat (1) UU Nomor 13/2003, barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2), Pasal 38 ayat (2), Pasal 63 ayat (1), Pasal 78 ayat (1), Pasal 108 ayat (1), Pasal 111 ayat (3), Pasal 114, dan Pasal 148, dikenakan sanksi pidana denda paling sedikit Rp5 juta dan paling banyak Rp50 juta. Lantas, bolehkah perusahaan mempekerjakan karyawannya lembur lebih dari Pasal 78 ayat (1) atau lebih dari 3 jam sehari, atau lebih dari 14 jam seminggu, namun diizinkan oleh Disnaker setempat? Apakah hal tersebut tetap melanggar ketentuan pidana dalam Pasal 188 ayat (1)?

Daftar Isi

    INTISARI JAWABAN

    ULASAN LENGKAP

    Terima kasih atas pertanyaan Anda.

    Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran ketiga dari artikel dengan judul sama yang dibuat oleh Umar Kasim, pertama kali dipublikasikan pada Rabu, 17 Maret 2010, yang dimutakhirkan oleh Bernadetha Aurelia Oktavira, S.H. pada Jumat, 21 Mei 2021, dan dimutakhirkan kedua kalinya oleh Renata Christha Auli, S.H. pada 8 Juni 2023.

    Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.

    Ketentuan Waktu Lembur dan Syaratnya

    Apa saja undang-undang seputar lembur? Kami informasikan, sebelumnya ketentuan lembur diatur dalam UU Ketenagakerjaan dan PP 35/2021. Namun, saat ini UU Ketenagakerjaan telah diubah, dihapus, dan ditetapkan pengaturan baru oleh Perppu Cipta Kerja yang telah ditetapkan sebagai undang-undang melalui UU 6/2023.

    Belajar Hukum Secara Online dari Pengajar Berkompeten Dengan Biaya Terjangkau

    Mulai DariRp. 149.000

    Berkaitan dengan pertanyaan Anda, waktu kerja yang ditentukan undang-undang meliputi:[1]

    1. 7 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu; atau
    2. 8 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

    Namun, dalam suatu pekerjaan ada kalanya pekerja bekerja melebihi waktu kerja tersebut. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 81 angka 24 Perppu Cipta Kerja, yang mengubah Pasal 78 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, yang berbunyi:

    Pengusaha yang mempekerjakan bekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (2) harus memenuhi syarat:

      1. ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; dan
      2. waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling lama 4 (empat) jam dalam 1 (satu) hari dan 18 (delapan belas) jam dalam 1 (satu) minggu.

    Kemudian, pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud ketentuan di atas wajib membayar upah kerja lembur.[2] Namun, patut diperhatikan bahwa kebijakan lembur perusahaan tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu.[3]

    Selain itu, Pasal 26 ayat (1) PP 35/2021 juga mengatur batasan waktu kerja lembur yang sama, yaitu batas kerja lembur hanya dapat dilakukan, paling lama 4 jam dalam 1 hari dan 18 jam dalam 1 minggu.

    Lebih lanjut, untuk melaksanakan waktu kerja lembur harus ada perintah dari pengusaha seperti regulasi lembur perusahaan maupun bentuk perintah lainnya, dan persetujuan dari pekerja yang bersangkutan secara tertulis dan/atau melalui media digital. Perintah dan persetujuan dapat dibuat dalam bentuk daftar pekerja yang bersedia bekerja lembur yang ditandatangani oleh pekerja dan pengusaha.[4]

    Kemudian, pengusaha juga harus membuat daftar pelaksanaan kerja lembur yang memuat nama pekerja yang bekerja lembur dan lamanya waktu kerja lembur.[5]

    Lantas, bagaimana cara menghitung upah lembur?

    Hitungan Upah Lembur

    Perusahaan yang mempekerjakan pekerja melebihi waktu kerja (lembur) wajib membayar upah kerja lembur, dengan ketentuan:[6]

    1. untuk jam kerja lembur pertama sebesar 1,5 kali upah sejam; dan
    2. untuk setiap jam kerja lembur berikutnya, sebesar 2 kali upah sejam.

    Namun, apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi, maka perhitungannya berbeda, yaitu sebagai berikut.

    1. Untuk waktu kerja 6 hari kerja dan 40 jam seminggu:[7]
    1. perhitungan upah kerja lembur dilaksanakan sebagai berikut:
      1. jam pertama sampai dengan jam ketujuh, dibayar 2 kali upah sejam;
      2. jam kedelapan, dibayar 3 kali upah sejam; dan
      3. jam kesembilan, jam kesepuluh, dan jam kesebelas, dibayar 4 kali upah sejam;
    1. jika hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek, perhitungan upah kerja lembur dilaksanakan sebagai berikut:
      1. jam pertama sampai dengan jam kelima, dibayar 2 kali upah sejam;
      2. jam keenam, dibayar 3 kali upah sejam; dan
      3. jam ketujuh, jam kedelapan, dan jam kesembilan, dibayar 4 kali upah sejam.
    1. Untuk waktu kerja 5 hari kerja dan 40 jam seminggu:[8]
      1. jam pertama sampai dengan jam kedelapan, dibayar 2 kali upah sejam;
      2. jam kesembilan, dibayar 3 kali upah sejam; dan
      3. jam kesepuluh, jam kesebelas, dan jam kedua belas, dibayar 4 kali upah sejam.

    Sanksi Penyimpangan Waktu Kerja Lembur

    Sebagai informasi, dahulu memang ada yang namanya penyimpangan waktu kerja dan waktu istirahat sebagaimana pernah diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja 1989 yang dilakukan secara selektif dan bersifat temporer, namun kini aturan tersebut telah dicabut keberlakuannya.

    Dalam hal ada pejabat Dinas Ketenagakerjaan yang masih memberikan izin penyimpangan waktu kerja lembur bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka yang bersangkutan bertindak melampaui wewenang[9] dan dapat dikenakan sanksi sesuai dengan PP 53/2010 sebagaimana diperbaharui dengan PP 94/2021.

    Selain itu, pengusaha yang melanggar ketentuan waktu kerja lembur dalam Pasal 78 ayat (1) UU Ketenagakerjaan sebagaimana telah disebutkan di atas, dapat dijerat sanksi pidana denda minimal Rp5 juta dan maksimal Rp50 juta.[10] Namun, perlu diingat bahwa sanksi denda tersebut tidak menghilangkan kewajiban pengusaha untuk membayar hak-hak dan/atau ganti kerugian kepada pekerja itu sendiri.[11]

    Demikian jawaban kami terkait regulasi lembur di perusahaan sebagaimana ditanyakan, semoga bermanfaat.

    Dasar Hukum:


    [2] Pasal 81 angka 24 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 78 ayat (2) UU Ketenagakerjaan

    [3] Pasal 81 angka 24 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 78 ayat (3) UU Ketenagakerjaan

    [5] Pasal 28 ayat (3) PP 35/2021

    [6] Pasal 31 ayat (1) PP 35/2021

    [7] Pasal 31 ayat (2) PP 35/2021

    [8] Pasal 31 ayat (3) PP 35/2021

    [10] Pasal 81 angka 69 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 188 ayat (1) UU Ketenagakerjaan

    [11] Pasal 189 UU Ketenagakerjaan

    Punya Masalah Hukum yang sedang dihadapi?

    atau konsultasi via chat mulai Rp30.000